SENDAWAR, Prokopim-Pelaksanaan panen padi bersama di kawasan Rapak Oros, Kampung Linggang Amer, Kecamatan Linggang Bigung menjadi bukti nyata keberhasilan pengembangan inovasi pertanian berbasis riset yang telah dimulai sejak tahun 2024 lalu.
Kepala Dinas Pertanian Kutai Barat (Kubar) Stepanus A. Samson menjelaskan bahwa pada tahun 2024 telah dilakukan uji kelayakan tanah dan kesesuaian lahan bersama para peneliti dari BRIN Yogyakarta sebagai dasar dalam menentukan rekomendasi teknologi budidaya yang tepat.
Selain itu, dilakukan uji terhadap empat varietas padi yaitu IPB 3S, Trisakti, Inpara 02 dan padi lokal pada lahan seluas 2 hektare guna mengetahui varietas yang paling sesuai dengan kondisi lahan Rapak Oros.
“Berdasarkan hasil uji coba tersebut, produktivitas mencapai sekitar 4,8 ton per hektare. Angka ini lebih tinggi dibandingkan padi ladang yang rata-rata hanya sekitar 3 ton per hektare,”jelasnya.
Berdasarkan hasil kaji terap tahun 2024 tersebut, pada tahun 2025 dilakukan tindak lanjut inovasi dengan menetapkan varietas unggulan Inpara 02 yang terbukti paling adaptif dan produktif.
Pengembangan kemudian dilaksanakan pada lahan seluas 5 hektare. Padi yang dipanen bersama tersebut ditanam pada 8 Desember 2025 dan dipanen pada 26 Maret 2026 dengan masa tanam sekitar tiga bulan.
Dengan masa tanam tersebut, dalam satu tahun penanaman dapat dilakukan sebanyak dua hingga tiga kali, meskipun secara teknis lahan tetap memerlukan waktu istirahat dan pemeliharaan.
“Jika produktivitas mencapai sekitar 4,8 ton per hektare, maka dengan dua kali tanam dapat menghasilkan sekitar 9,6 ton per hektare per tahun, dan jika tiga kali tanam bisa mendekati sekitar 15 ton,”terangnya.
Dalam penerapannya, pengembangan padi juga menggunakan sistem tanam jajar legowo yang bertujuan meningkatkan produktivitas, efisiensi pemanfaatan lahan serta optimalisasi proses fotosintesis tanaman.
Kegiatan panen bersama ini menunjukkan sinergi antara pemerintah daerah, peneliti, penyuluh pertanian dan petani melalui pendekatan berbasis ilmu pengetahuan atau evidence-based agriculture, sehingga setiap langkah pengembangan pertanian memiliki dasar yang jelas dan terukur.
Melalui kegiatan ini diharapkan inovasi varietas Inpara 02 dapat terus dikembangkan sebagai salah satu upaya percepatan peningkatan produksi padi sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah di Kubar. (KP6)

