KUTAI BARAT, PROKOPIM – Pemerintah Kabupaten Kutai Barat terus mendorong penguatan ketahanan dan kemandirian pangan melalui inovasi, diversifikasi pangan lokal, pemanfaatan pekarangan serta penguatan sinergi lintas sektor.

Hal tersebut disampaikan Bupati Kutai Barat Frederick Edwin melalui Sekretaris Daerah (Sekda) Erik Victory saat memperingati Hari Pangan Sedunia (HPS) 2026 tingkat Kabupaten Kutai Barat di Kantor Dinas Ketahanan Pangan Kutai Barat, Selasa (27/10/2026).

Mengusung tema “Berinovasi Kini, Menjaga Pangan Masa Depan”, peringatan HPS menjadi momentum untuk memperkuat kesadaran bersama bahwa pangan bukan sekadar kebutuhan sehari-hari, tetapi bagian penting dalam membangun masyarakat yang sehat, mandiri dan sejahtera.

Bupati mengatakan tantangan pangan ke depan semakin kompleks, mulai dari perubahan iklim, dinamika ekonomi global hingga kebutuhan penerapan teknologi. Karena itu, sektor pertanian, perkebunan dan perikanan harus terus dikembangkan agar semakin produktif, mandiri dan berkelanjutan.
“Momentum ini merupakan alarm pengingat bagi kita semua akan pentingnya memperkuat ketahanan pangan, meningkatkan kemandirian pangan, serta memastikan ketersediaan akses pangan yang cukup, sehat, dan bergizi bagi seluruh masyarakat, khususnya di Bumi Tanaa Purai Ngeriman,” ujarnya.

Salah satu langkah yang ditekankan adalah optimalisasi potensi pangan lokal. Masyarakat didorong tidak bergantung pada satu jenis pangan pokok, tetapi mulai mengembangkan berbagai sumber pangan nonberas yang memiliki nilai gizi tinggi.

“Mari kita kurangi ketergantungan pada satu jenis pangan pokok dengan diversifikasi pangan. Tingkatkan inovasi dan gali potensi pangan lokal menjadi makanan yang berbasis B2SA,” tegasnya.

Selain diversifikasi pangan, Pemkab Kubar juga berkomitmen memberikan dukungan kepada petani melalui pendampingan, pembinaan, bantuan teknologi serta sarana dan prasarana yang tepat guna.
Pemanfaatan lahan pekarangan juga terus didorong melalui program Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) maupun program sejenis. Langkah tersebut dinilai mampu membantu memenuhi kebutuhan pangan dan gizi keluarga sekaligus mendukung upaya penanganan stunting.

Bupati juga menekankan pentingnya kolaborasi pemerintah, swasta, akademisi dan masyarakat dalam membangun sistem pangan daerah yang kuat.
“Ketahanan pangan tidak dapat diwujudkan oleh pemerintah sendiri. Dibutuhkan kolaborasi seluruh pihak,” katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Kutai Barat Rion mengatakan peringatan HPS yang diperingati setiap 16 Oktober menjadi momentum memperkuat kepedulian dan komitmen terhadap pentingnya pangan bagi kehidupan masyarakat.

Menurutnya, tema HPS 2026 mengandung pesan agar masa depan pangan dipersiapkan melalui tindakan nyata, salah satunya dengan mengembangkan potensi pangan lokal.

“Potensi pangan lokal perlu terus dikembangkan untuk memperkuat kemandirian pangan daerah Kabupaten Kutai Barat,” kata Rion.

Dalam rangkaian HPS 2026, Dinas Ketahanan Pangan menggelar sejumlah kegiatan, mulai dari lomba kreasi menu makan siang B2SA khas Kutai Barat, lomba minuman khas daerah, pemeriksaan keamanan pangan segar asal tumbuhan (PSAT), bazar UMKM hingga edukasi konsumsi pangan B2SA di sekolah.

Salah satu program yang mendapat perhatian adalah Gerakan Pangan Murah (GPM). Sepanjang 2026, Dinas Ketahanan Pangan Kutai Barat telah melaksanakan GPM sebanyak 60 kali.
Program tersebut bertujuan menjaga stabilitas pasokan dan harga pangan sekaligus membantu mengendalikan inflasi daerah.

Dari 60 kali pelaksanaan GPM, masyarakat menyerap berbagai komoditas pangan dalam jumlah besar. Di antaranya beras premium 4,3 ton, beras SPHP 183,3 ton, minyak goreng 13,91 ribu liter, gula pasir 7,7 ton, bawang merah 4,5 ton, telur ayam 10,9 ton dan bawang putih 3,1 ton.
“Ini menggambarkan bahwa kebutuhan pangan di Kutai Barat sangat berarti bagi masyarakat. Bahkan minggu lalu pelaksanaan Gerakan Pangan Murah pernah mencapai serapan 10,2 ton dalam satu hari,” ungkap Rion.(KP36)

Komentar dinonaktifkan.