KUTAI BARAT, PROKOPIM – Pendidikan di Kutai Barat didorong tidak lagi sekadar mengejar prestasi akademik, tetapi harus mampu membentuk karakter, menjaga budaya dan lingkungan, serta menghasilkan peserta didik yang mampu memberi dampak nyata bagi masyarakat.
Pesan tersebut ditegaskan Bupati Kutai Barat Frederick Edwin saat meluncurkan Program Education for Sustainable Development (ESD) dengan pendekatan Whole School Approach (WSA) di SD Negeri 002 Linggang Bigung, Selasa (13/10/2026).
Program ESD-WSA ini menjadi langkah strategis SDN 002 Linggang Bigung dalam membangun ekosistem pendidikan berkelanjutan dengan melibatkan sekolah, keluarga, masyarakat dan pemerintah. Pendekatan tersebut diarahkan agar pendidikan tidak berhenti di ruang kelas, tetapi terhubung dengan kehidupan sosial, budaya dan lingkungan sekitar.
Bupati Frederick Edwin mengapresiasi inisiatif sekolah yang mengembangkan pendidikan berkelanjutan dengan memadukan nilai budaya Dayak Rentenuukng dan Jawa.
Menurutnya, keberagaman budaya merupakan kekuatan yang harus ditanamkan sejak dini kepada generasi muda.
“Budaya dan kearifan lokal harus menjadi bagian dari pendidikan. Dari sana kita menanamkan nilai gotong royong, toleransi, kepedulian terhadap sesama dan lingkungan,” ujar Frederick.
Ia menegaskan filosofi “Berakar, Bernalar, Berdampak” harus menjadi roh dalam pelaksanaan program. Pendidikan harus berakar pada budaya dan nilai luhur, mendorong peserta didik bernalar kritis dan kreatif, serta diwujudkan melalui tindakan nyata yang memberi manfaat bagi masyarakat dan lingkungan.
“Berakar pada budaya dan nilai luhur, bernalar secara kritis dan kreatif, serta berdampak melalui tindakan nyata bagi masyarakat dan lingkungan,” tegasnya.
Frederick berharap implementasi ESD melalui WSA mampu mendorong SDN 002 Linggang Bigung menjadi sekolah yang kuat dalam karakter, literasi, numerasi dan pelestarian budaya, sekaligus menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, sehat, inklusif dan bebas dari perundungan.
Menurutnya, keberhasilan program tidak dapat hanya dibebankan kepada sekolah. Guru, peserta didik, orang tua, tokoh adat, masyarakat dan pemerintah daerah harus mengambil peran sesuai tanggung jawab masing-masing.
“Guru harus menjadi teladan, peserta didik aktif belajar dan menjaga lingkungan, sementara orang tua, tokoh adat, masyarakat dan pemerintah daerah terus memperkuat dukungan agar program ini berjalan secara berkelanjutan hingga tahun 2030,” jelasnya.
Senada dengan Bupati, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kutai Barat Kamius Junaidi menegaskan bahwa program tersebut harus menjadi bagian dari perubahan besar dalam paradigma pendidikan.
Ia mengingatkan, keberhasilan pendidikan tidak semata-mata diukur dari berapa banyak siswa yang menjadi juara, tetapi dari perubahan karakter dan kemampuan anak menghadapi kehidupan.
“Tujuan utama pendidikan adalah merubah karakter anak. Jangan sampai kita menuntut anak untuk harus selalu juara, tetapi bagaimana kebutuhan karakter itu terbentuk,” kata Kamius.
Ia menjelaskan, proses pendidikan anak tidak hanya berlangsung di sekolah. Lingkungan keluarga memiliki peran besar dalam membentuk karakter dan kebiasaan anak sehingga sinergi antara sekolah dan orang tua menjadi sangat penting.
Kamius juga menyoroti pentingnya penguatan literasi dan numerasi melalui metode pembelajaran yang lebih kreatif. Guru didorong meninggalkan pola pembelajaran yang monoton dan membangun suasana belajar yang membuat anak merasa senang sekaligus mampu mengembangkan kemampuan bernalar.
“Guru-guru diajarkan bagaimana berinovasi agar anak merasa gembira, senang dalam belajar, dan bagaimana cara mereka membangun nalar,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Panitia Albertus Ari Setiawan mengatakan peluncuran ESD-WSA bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan menjadi pernyataan komitmen bersama untuk membangun pendidikan yang mampu menjawab tantangan zaman.
“Ini merupakan langkah awal SD Negeri 002 Linggang Bigung dalam membangun dan mengembangkan paradigma pendidikan berkelanjutan yang melibatkan seluruh unsur sekolah, keluarga, masyarakat dan para murid,” ungkapnya.
Ia menambahkan, pelaksanaan program mendapat dukungan berbagai pihak, baik dalam bentuk dana, material, tenaga, pemikiran maupun dukungan lainnya.
Dengan peluncuran tersebut, SDN 002 Linggang Bigung diharapkan menjadi salah satu model pengembangan pendidikan berkelanjutan di Kutai Barat yang mampu mengintegrasikan karakter, budaya, literasi, numerasi dan kepedulian lingkungan dalam kehidupan sekolah.
Peluncuran dihadiri Sekretaris Daerah, jajaran pemerintah daerah, Camat Linggang Bigung dan Forkopimcam, para petinggi dan kepala BPK, kepala adat, kepala sekolah, guru, komite sekolah, orang tua/wali siswa serta tokoh masyarakat, pemuda dan agama.(KP36)

