DARI TANGAN Lydia Selvi, warisan budaya Dayak Tunjung terus hidup dan berkembang. Selama sekitar 16 tahun, perempuan kelahiran Kampung Melapeh Lama, 4 April 1969, ini tekun mengembangkan Wastra Kriookng, kerajinan khas Kutai Barat (Kubar) yang dikenal dengan motif beragam, warna cerah, serta ukiran berlapis yang dibuat dengan ketelitian tinggi.

Nama Kriookng atau ngereok berasal dari bahasa Dayak Tunjung Rentenukng yang berarti melubangi. Di balik proses pembuatannya yang rumit, tersimpan filosofi dan kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun.

Lydia merupakan anak pertama dari enam bersaudara. Kecintaannya terhadap Kriookng tumbuh sejak kecil setelah mengenal kerajinan tersebut dari sang tante, saudara ibunya.

Setelah sang tante meninggal dunia dan tidak ada yang meneruskan, Lydia memilih mengambil peran untuk menjaga warisan tersebut. Pada 2010, ia mulai serius mengembangkan Kriookng.

Menariknya, perjalanan itu dimulai ketika Lydia masih aktif sebagai perawat di RS Dirgahayu. Ia juga pernah ditugaskan di Klinik Santo Yoseph, wilayah Kecamatan Tering. Setelah mengabdi selama bertahun-tahun, Lydia akhirnya pensiun sekitar Juli 2022.

Di tengah kesibukannya sebagai tenaga kesehatan, ia tetap menjalankan kerajinan Kriookng. Promosi dilakukan secara sederhana, dari mulut ke mulut melalui keluarga dan teman.

Kala itu, seluruh proses pengerjaan masih dilakukan secara manual dengan tangan. Satu stel pakaian lengkap beserta aksesori Kriookng dibanderol sekitar Rp1,5 juta. Dari usaha tersebut, penghasilannya saat itu sekitar Rp3 juta per bulan.

Kini, usaha Lydia berkembang jauh lebih besar. Jika dahulu produksi sepenuhnya mengandalkan keterampilan tangan, saat ini proses pengerjaan sudah menggunakan mesin jahit.

Dalam sebulan, sekitar 10 stel pakaian dapat diproduksi dengan dukungan 10 orang pekerja. Omzet yang diperoleh pun meningkat hingga sekitar Rp30 juta per bulan.

Penghasilan tersebut digunakan untuk membayar upah pekerja, membeli bahan baku, serta memenuhi berbagai kebutuhan produksi.

Perjalanan Lydia mengembangkan Kriookng juga tidak lepas dari dukungan keluarga. Ia menikah dengan Frans (62) dan dikaruniai dua anak, Stefani (36) dan E.F Hangin (32). Kini, Lydia telah memiliki enam cucu.

Namun, bagi Lydia, mengembangkan Kriookng bukan semata-mata soal usaha dan penghasilan. Ada tanggung jawab yang lebih besar, yakni menjaga identitas budaya agar tetap hidup dan dikenal oleh generasi berikutnya.

Ia pun berpesan kepada generasi muda agar tidak malu menggunakan produk budaya daerah.

“Jangan pernah malu dengan ciri khas budaya kita. Dengan mengenakan wastra Kriookng atau produk turunannya, berarti kita ikut mempromosikan dan mencintai produk kita sendiri,”ujarnya.

Lydia juga mengapresiasi dukungan Dekranasda Kabupaten Kubar yang selama ini membantu memperkenalkan Wastra Kriookng melalui berbagai pameran, baik di dalam maupun luar negeri.

Menurutnya, kesempatan mengikuti berbagai pameran tersebut membuka peluang yang lebih besar bagi para perajin. Produk yang sebelumnya hanya dikenal di lingkungan sekitar, kini semakin dikenal masyarakat luas, termasuk calon pembeli dari luar daerah hingga mancanegara.

“Terima kasih kepada Dekranasda yang sudah mengajak, membantu dan mempromosikan Wastra Kriookng ke berbagai pameran. Dengan begitu, wastra ini semakin dikenal dan tentu berdampak pada penghasilan perajin serta semakin dikenalnya produk khas Kubar,”katanya.

Bagi masyarakat yang ingin membeli atau memesan produk Wastra Kriookng karya Lydia Selvi, dapat menghubunginya melalui nomor +62 813-4001-694 atau datang langsung ke rumahnya di Gang Gereja RT 3, Kampung Linggang Melapeh, Kecamatan Linggang Bigung. (KP6)

Komentar dinonaktifkan.