TANGERANG, Prokopim-Pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) Kabupaten Kutai Barat (Kubar) didorong memanfaatkan Trade Expo Indonesia (TEI) ke-41 Tahun 2026 untuk memperluas jaringan pemasaran, menjangkau pembeli luar negeri. dan membuka peluang menembus pasar internasional.

Kepala Bidang Perdagangan Dinas Perdagangan, Koperasi dan UKM (Disdagkop UKM) Kubar, Oktarinus, mengatakan pameran berskala nasional tersebut menjadi kesempatan bagi pelaku UKM untuk memperkenalkan produk sekaligus membangun koneksi dengan calon pembeli dan distributor.

“Pameran ini sangat membantu, khususnya bagi pelaku UKM yang sudah memiliki produk. Ke depan, kami akan berupaya membantu pemasaran agar produk mereka bisa menjangkau pasar yang lebih luas, termasuk pasar internasional,”ujarnya saat ditemui di stan Disdagkop UKM Kubar, Paviliun Kalimantan Timur (Kaltim), Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Tangerang, Banten.

Menurut Oktarinus, upaya memperluas pasar tidak cukup hanya melalui pameran. Pemasaran di tingkat nasional juga perlu diperkuat, antara lain dengan membuka peluang agar produk UKM Kubar dapat dipasarkan di bandara, hotel, dan berbagai tempat strategis lainnya.

Disdagkop UKM melalui Bidang Perdagangan juga akan mendorong kerja sama dengan Bidang Industri untuk membantu pelaku UKM memperluas pemasaran dan meningkatkan penjualan produk.

Pengalaman mengikuti TEI, lanjutnya, dapat diterapkan dalam berbagai kegiatan daerah, seperti Festival Dahau dalam rangka Hari Ulang Tahun (HUT) Kubar maupun peringatan HUT Kemerdekaan RI. Salah satu langkah yang dapat dilakukan ialah menyediakan stan atau booth khusus bagi pelaku UKM untuk mempromosikan produk mereka.

“Dari diskusi dengan para pelaku UKM, saya melihat salah satu persoalan utama memang pemasaran. Kalau produk sudah memiliki penampung, distributor, dan pasar yang jelas, tentu pelaku UKM akan lebih bersemangat mengembangkan usahanya,”jelasnya.

Selain pemasaran, ketersediaan bahan baku juga menjadi tantangan yang perlu mendapat perhatian. Menurut Oktarinus, keberlanjutan usaha UKM sangat bergantung pada kemampuan petani menjaga produksi bahan baku agar tetap tersedia.

Ia menilai kecenderungan petani beralih ke komoditas yang sedang memiliki harga tinggi berpotensi memengaruhi pasokan bahan baku bagi pelaku usaha pengolahan.

Sebagai contoh, harga karet yang saat ini berkisar Rp17.000 hingga Rp18.000 per kilogram mendorong petani melirik komoditas tersebut. Namun, ketika harga komoditas lain, seperti kakao atau cokelat, meningkat dan harga karet menurun, petani berpotensi kembali mengalihkan pilihan.

“Bahan baku sangat diperlukan untuk menjaga kelangsungan usaha dan produksi. Karena itu, selain membantu pemasaran, ketersediaan bahan baku juga perlu menjadi perhatian agar usaha UKM dapat berkembang secara berkelanjutan,”pungkasnya. (KP6)

Komentar dinonaktifkan.