SENDAWAR, Prokopim-Upaya pelestarian adat dan warisan budaya nusantara kembali mendapat apresiasi. Tokoh masyarakat Kutai Barat (Kubar), Ismail Thomas resmi menerima Anugerah Naga Sasra dari Kementerian Kebudayaan RI melalui Award SNKI.
Penghargaan tersebut diberikan atas kontribusinya dalam mendukung eksistensi ekosistem budaya lokal, khususnya pelestarian seni dan tradisi leluhur di Kubar.
Ketua Paguyuban Tosan Aji Pinang Sendawar, Waluyo Dwi Atmojo Setiobroto mengatakan, menjaga benda pusaka atau tosan aji bukan sekadar merawat fisiknya, melainkan juga mempertahankan nilai budaya yang terkandung di dalamnya.
“Ketika pusaka dilestarikan, yang sesungguhnya dijaga bukan hanya bendanya, melainkan ingatan kolektif, jati diri, dan akar budaya bangsa agar tidak hilang ditelan zaman,”ujarnya.
Menurut Waluyo, penghargaan Naga Sasra diberikan kepada tokoh maupun institusi yang dinilai memiliki kontribusi besar terhadap keberlangsungan ruang ekspresi budaya di Indonesia.
Ia menilai Ismail Thomas layak menerima penghargaan tersebut karena selama ini konsisten memberikan ruang bagi para seniman, budayawan, dan pelestari tradisi untuk terus berkarya. Selain itu, dukungan kebijakan dan perhatian terhadap kearifan lokal dinilai mampu meningkatkan partisipasi masyarakat dalam menjaga tradisi.
Bupati Kubar periode 2011–2016 itu juga dianggap menjadi salah satu pilar penting dalam berbagai kegiatan budaya berskala besar yang berdampak positif terhadap aspek sosial maupun ekonomi masyarakat.
Sementara itu, Ismail Thomas mengaku bersyukur atas penghargaan yang diterimanya. Ia menegaskan budaya bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan penentu arah masa depan generasi penerus.
“Budaya adalah kemudi sebuah peradaban. Jika kita membiarkan Mandau dan tradisi leluhur kita punah, kita sedang menghapus jejak sejarah kita sendiri di masa depan,”katanya kepada Kaltim Post, Minggu (24/5/2026).
Namun demikian, Ismail mengakui pelestarian budaya saat ini menghadapi tantangan besar di tengah arus modernisasi. Menurutnya, minat generasi muda terhadap budaya lokal, khususnya seni pembuatan Mandau, mulai berkurang.
Padahal, pembuatan Mandau membutuhkan keterampilan tinggi, mulai dari proses penempaan bilah besi hingga seni ukiran yang sarat makna budaya.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Ismail Thomas berencana membangun wadah khusus bagi para pelaku seni tradisi di Kubar. Tempat itu nantinya menjadi pusat aktivitas para pande besi, pengrajin kumpang, hingga pembuat gagang Mandau agar dapat bekerja dan berkarya secara terintegrasi.
“Kita akan manfaatkan space di bawah enam Lamin yang ada di Taman Budaya Sendawar sebagai basecamp utama,” jelasnya.
Melalui pusat kegiatan tersebut, pihaknya juga akan menggelar pelatihan dan bimbingan teknis secara berkala guna menarik minat generasi muda agar kembali mencintai serta melestarikan seni pembuatan Mandau.
Sebagai informasi, Anugerah Naga Sasra merupakan bentuk apresiasi bagi pihak-pihak yang dinilai konsisten memberikan perlindungan dan ruang ekspresi bagi kebudayaan nusantara melalui dukungan nyata dan kebijakan yang berpihak pada pelestarian budaya. (KP6)

