KUTAI BARAT, PROKOPIM – Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang terjadi di sejumlah wilayah Kabupaten Kutai Barat berdampak terhadap kualitas udara dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan, khususnya Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
Direktur RSUD HIS Kutai Barat, dr. Marisye Christantia, Sp.PD, yang juga merupakan dokter spesialis penyakit dalam, mengatakan kondisi udara yang tercemar asap akibat Karhutla perlu menjadi perhatian bersama.
Menurutnya, masyarakat saat ini dapat melihat kondisi udara yang tampak seperti berkabut, namun sebenarnya merupakan kabut asap akibat polusi udara.
“Di Kutai Barat saat ini terjadi beberapa kebakaran hutan dan lahan yang menyebabkan tingginya polusi udara. Udara kita tercemar oleh asap, sehingga suasananya terkadang terlihat seperti berkabut. Padahal itu sebenarnya adalah kabut asap,” jelas dr. Tia.
Ia menjelaskan, meningkatnya polusi udara turut berpengaruh terhadap kesehatan masyarakat, terutama gangguan pada saluran pernapasan. Hal tersebut terlihat dari meningkatnya kunjungan masyarakat ke rumah sakit dengan keluhan yang berkaitan dengan saluran pernapasan.
“Jumlah masyarakat yang mengalami gangguan saluran pernapasan saat ini juga mengalami peningkatan. Kunjungan ke rumah sakit akibat keluhan saluran pernapasan juga mengalami peningkatan,” ungkapnya.
Dalam kondisi tersebut, dr. Tia mengapresiasi langkah Yayasan Jantung Indonesia (YJI), Pemerintah Kabupaten Kutai Barat, Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan, Ikatan Dokter Indonesia (IDI), serta PT BEK yang melakukan aksi nyata dengan membagikan masker kepada peserta didik sebagai salah satu upaya perlindungan dari paparan asap dan partikel udara.
Ia mengimbau para siswa agar penggunaan masker tidak hanya dilakukan saat menerima bantuan, tetapi menjadi kebiasaan sehari-hari, khususnya ketika melakukan aktivitas di luar ruangan.
“Jangan hanya digunakan hari ini, kemudian besok tidak digunakan lagi. Gunakan masker terutama saat melakukan aktivitas di luar untuk menghindari gangguan saluran pernapasan, seperti batuk dan pilek yang dapat menjadi lebih berat,” pesannya.
Selain memberikan imbauan, dr. Tia juga memberikan edukasi kepada peserta didik mengenai cara menggunakan masker yang benar. Ia menjelaskan, pada masker medis, sisi berwarna biru ditempatkan di bagian luar, sedangkan sisi berwarna putih berada di bagian dalam.
Sementara itu, bagian masker yang dilengkapi kawat harus ditempatkan di bagian atas dan disesuaikan dengan bentuk hidung. Penggunaan masker yang tepat dapat membantu mengurangi celah masuknya asap dan partikel dari udara luar.
Dr. Tia berharap para peserta didik dapat membiasakan diri menjaga kebersihan dan kesehatan sejak dini.
Menurutnya, kesehatan merupakan salah satu modal penting bagi generasi muda untuk tumbuh dan menjadi penerus bangsa.
“Adik-adik adalah generasi penerus bangsa. Kalau kita tidak menjaga kesehatan sejak dini dan lalai, kerugiannya akan kembali kepada kita sendiri,” pungkasnya.
Ia juga mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan selama kondisi kabut asap masih terjadi, terutama anak-anak, lanjut usia, serta masyarakat yang memiliki aktivitas tinggi di luar ruangan. Penggunaan masker, mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk, dan menjaga kebersihan diri

