SENDAWAR, Prokopim– Ritual adat bukan sekadar seremoni. Di balik rangkaian tradisi yang diwariskan leluhur, tersimpan nilai kebersamaan, gotong royong dan penghormatan terhadap kehidupan sosial masyarakat.

Pesan itu disampaikan dalam Puncak Ritual Adat Kuangkay di Kampung Cempedas, Kecamatan Muara Lawa, Selasa (1/9). Bupati Kutai Barat (Kubar) Frederick Edwin hadir langsung dan menegaskan pentingnya menjaga adat dan budaya sebagai bagian dari identitas daerah.

Menurut Frederick, keberadaan ritual adat menjadi salah satu bentuk nyata masyarakat dalam mempertahankan warisan leluhur sekaligus menjaga keberlangsungan hukum adat.

“Atas nama Pemerintah Kabupaten Kutai Barat, saya menyambut baik dilaksanakannya upacara adat semacam ini. Ini merupakan wujud nyata upaya pemeliharaan budaya, adat dan hukum adat yang merupakan warisan leluhur,” ujar Frederick.

Ia menilai kegiatan adat juga memiliki fungsi sosial yang kuat. Interaksi masyarakat yang terbangun dalam setiap rangkaian ritual mampu memperkokoh solidaritas dan menciptakan komunikasi yang positif antarwarga.

Nilai tersebut, kata dia, sejalan dengan semangat gotong royong yang menjadi salah satu cerminan nilai Pancasila.
Jangan Biarkan Budaya Tergerus
Frederick meminta masyarakat tidak berhenti pada pelaksanaan ritual tahunan. Pelestarian budaya harus menjadi gerakan bersama dan melibatkan seluruh lapisan masyarakat, terutama generasi penerus.
“Budaya merupakan unsur identitas bangsa yang harus terus kita pertahankan dan lestarikan,” tegasnya.

Ia mengajak masyarakat aktif mengambil bagian dalam pembangunan daerah. Pelibatan masyarakat, menurutnya, tidak hanya dilakukan melalui sektor adat dan budaya, tetapi juga berbagai bidang pembangunan lainnya.

Di tengah masyarakat yang majemuk, Frederick juga mengingatkan pentingnya menjaga persatuan. Ia meminta masyarakat tidak mudah terprovokasi oleh isu yang berpotensi memecah kerukunan.
Sebaliknya, keberagaman harus dirawat sebagai kekuatan bersama.

“Terus tingkatkan rasa kebersamaan dalam keberagaman dan kemajemukan masyarakat. Dengan masyarakat yang kondusif, pembangunan dapat dilaksanakan secara efektif dan tepat sasaran,” katanya.

Ia berharap nilai-nilai adat dan kebersamaan yang tumbuh di tengah masyarakat mampu menjadi modal sosial untuk mendukung terwujudnya Kutai Barat yang Semakin Sejahtera, Aman, Adil, Merata dan Beradat.

Lanjutnya, Karhutla Masih Jadi Perhatian
di tengah suasana pelestarian budaya, Bupati juga membawa pesan lain yang tak kalah penting: kewaspadaan terhadap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Memasuki musim kemarau dan kekeringan, seluruh pihak diminta tidak lengah. Status siaga darurat harus diikuti dengan kesiapsiagaan di lapangan dan kepedulian masyarakat.

“Saya meminta semua pihak tetap meningkatkan kewaspadaan penuh selama musim kemarau dan kekeringan berlangsung, terlebih terhadap kebakaran hutan dan lahan di Kutai Barat,” ucapnya.

Frederick mengingatkan, karhutla tidak hanya mengancam lingkungan, tetapi juga berdampak terhadap kesehatan masyarakat melalui pencemaran dan polusi udara.
Karena itu, ia mengajak masyarakat bersama-sama mencegah munculnya titik api serta melindungi keluarga dari dampak asap.

“Mari kita lindungi diri sendiri dan keluarga dari bahaya yang ditimbulkan, seperti pencemaran atau polusi udara karena asap yang tebal,” pesannya.

Puncak Ritual Adat Kuangkay di Kampung Cempedas turut dihadiri Sekretaris Daerah, para asisten dan kepala OPD, Ketua TP-PKK Kubar, Camat Muara Lawa bersama unsur Forkopimcam, Ketua Presidium Dewan Adat Kubar, Petinggi Kampung Cempedas, jajaran lembaga adat, panitia penyelenggara serta masyarakat.

Bagi Pemkab Kubar, pelestarian adat bukan hanya tentang menjaga tradisi masa lalu. Lebih dari itu, adat menjadi bagian dari kekuatan sosial untuk menjaga kerukunan sekaligus menopang pembangunan daerah ke depan.(KP17)

Komentar dinonaktifkan.