SAMARINDA, Prokopim-Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kutai Barat (Kubar) terus memperkuat kesiapan daerah dalam menarik investasi. Sekretaris Kabupaten (Sekkab) Kubar Erik Victory menghadiri High Level Meeting Regional Investor Relations Unit (HLM RIRU) Kaltim 2026, di Lantai 4 Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim), Samarinda, Rabu (16/9/2026).
Erik hadir bersama Kepala DPMTSP Kubar Philip Silitonga, Kabag Prokopim Bertha Purwanicayanti serta Kabid PSDAIK Bappedalitbang Merisa Dilang, Kabid Dinas PUPR Tonny Djoko Koostrianto. Pertemuan tersebut menjadi forum koordinasi pemerintah daerah bersama BI dan pemangku kepentingan untuk memperkuat kesiapan proyek investasi sekaligus mendorong realisasi investasi di Kaltim.
Wakil Gubernur Kaltim Seno Aji menegaskan, HLM RIRU tidak boleh berhenti sebagai forum koordinasi. Pertemuan tersebut harus menghasilkan langkah konkret yang dapat diterapkan hingga tingkat teknis di seluruh kabupaten/kota.
“Kita berharap forum koordinasi ini tidak hanya sekadar forum, tetapi menghasilkan poin-poin penting bagaimana hasil rapat koordinasi ini dijalankan pada tataran teknis,”ujarnya.
Menurut Seno, investasi harus memberikan dampak nyata terhadap pertumbuhan ekonomi daerah dan manfaat yang seluas-luasnya bagi masyarakat.
Terlebih, posisi Kaltim semakin strategis seiring pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN). Ia menyebut rencana Wakil Presiden berkantor di IKN pada 2027 dan Presiden pada 2028 menjadi momentum yang perlu dimanfaatkan pemerintah daerah untuk meningkatkan peluang investasi.
“Ini adalah kesempatan yang sangat strategis bagi kita semua dalam rangka meningkatkan investasi di daerah kita masing-masing,”katanya.
Seno mencontohkan perkembangan investasi di Kota Bontang yang selama ini ditopang berbagai industri besar, mulai dari Pupuk Kaltim dan LNG Badak hingga pengembangan hilirisasi kelapa sawit.
Investasi berskala besar juga mulai berkembang di daerah lain. Ia menyebut proyek metanol di Kutai Timur dengan nilai investasi sekitar Rp41,5 triliun sebagai salah satu contoh peluang hilirisasi yang dapat memberikan dampak bagi perekonomian daerah.
Namun, menurutnya, peluang investasi harus dibarengi kesiapan pemerintah daerah. Potensi daerah tidak cukup hanya ditawarkan secara umum. Investor membutuhkan informasi yang detail, mulai dari tata ruang, status dan kesiapan lahan, perizinan, potensi bahan baku, hingga ketersediaan tenaga kerja.
“Potensi daerah yang ada di masing-masing daerah harus benar-benar clear and clean,”tegasnya.
Karena itu, Seno mendorong kabupaten/kota memperkuat penyusunan Investment Project Ready to Offer (IPRO). Dokumen tersebut harus mampu menyajikan proyek secara konkret dan didukung data teknis yang memadai.
Ia mencontohkan pendekatan yang dilakukan Jawa Tengah dalam menawarkan proyek investasi. Setiap kabupaten mampu menampilkan potensi daerah secara rinci, termasuk sumber daya perikanan, estimasi produksi, kawasan pertambakan, hingga kesesuaian tata ruang.
Menurut Seno, pola serupa dapat diterapkan di Kaltim. Misalnya, potensi perkebunan pisang kepok grecek tidak hanya ditawarkan sebagai komoditas pertanian, tetapi dikembangkan dari sektor hulu hingga hilir, termasuk peluang pembangunan pabrik tepung pisang maupun industri makanan berbahan baku pisang.
Dengan demikian, investor tidak lagi datang hanya untuk mencari informasi, tetapi telah mendapatkan gambaran proyek yang siap dikembangkan.
Seno juga menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah provinsi dan kabupaten/kota. Ia merangkumnya dalam tiga langkah, yakni kompak, bergerak, dan berdampak.
“Kita harus kompak. Setelah kompak, kita harus bergerak. Pada saat bergerak inilah kita bisa mendapatkan investasi-investasi baru. Dan dari kompak serta bergerak, kita akan bisa berdampak kepada masyarakat,”ujarnya.
Salah satu pekerjaan penting yang harus segera diperkuat adalah penyelesaian dan penyesuaian RTRW dan RDTR di seluruh kabupaten/kota. Menurutnya, tata ruang merupakan fondasi penting dalam menawarkan investasi.
Ketidakjelasan tata ruang, status lahan maupun perizinan berpotensi membuat investor yang telah menyatakan minat mengurungkan rencana investasinya.
“Jangan sampai investor yang sudah punya minat kemudian hadir di Kaltim, sudah rapat dengan pemerintah daerah, tiba-tiba pergi begitu saja karena ketidaksiapan lahan dan ketidakjelasan perizinan,”katanya.
Sementara itu, Kepala Perwakilan BI Kaltim Jajang Hermawan mengatakan perekonomian Kaltim hingga triwulan II 2026 tetap tumbuh positif sebesar 3,35 persen secara year on year (yoy).
Menurutnya, momentum pertumbuhan tersebut perlu diperkuat melalui investasi produktif yang mampu meningkatkan kapasitas produksi, produktivitas, serta memperbesar potensi pertumbuhan ekonomi daerah.
“Bagi Kaltim, investasi memiliki peran strategis dalam mempercepat transformasi ekonomi, khususnya melalui pengembangan industri pengolahan dan kegiatan ekonomi bernilai tambah tinggi,”ujarnya.
Jajang menambahkan, percepatan realisasi investasi membutuhkan dukungan stabilitas makroekonomi dan kesiapan kelembagaan. Inflasi yang terkendali, daya beli masyarakat yang terjaga, serta prospek ekonomi yang baik menjadi bagian penting dalam memberikan kepastian kepada investor.
Di sisi lain, kesiapan proyek juga harus menjadi perhatian. Kejelasan tata ruang dan status lahan, kelayakan usaha, perizinan, serta dukungan infrastruktur menjadi komponen penting agar proyek investasi benar-benar clean and clear serta ready to offer.
Dalam konteks tersebut, RIRU menjadi wadah koordinasi untuk menyiapkan dan mempromosikan investasi daerah, memperkuat kesiapan proyek, memperluas jejaring investor, sekaligus mengawal proses investasi hingga tahap realisasi.
HLM RIRU 2026 juga diarahkan untuk memperkuat persiapan pelaksanaan Mahakam Investment Forum 2026 yang direncanakan berlangsung Oktober mendatang. Forum tersebut akan mempertemukan pemilik proyek dengan calon investor, baik dari dalam maupun luar negeri, sekaligus mendorong tindak lanjut minat investor menuju realisasi.
“Semoga HLM RIRU 2026 menghasilkan kesepakatan dan tindak lanjut yang konkret untuk meningkatkan kesiapan proyek, memperkuat kepercayaan investor, serta mempercepat realisasi investasi,”kata Jajang.
Bank Indonesia, lanjutnya, akan terus memperkuat peran dalam kerangka RIRU melalui koordinasi antarlembaga, penyediaan informasi ekonomi, serta pengembangan investment pipeline di Kaltim. (KP6)

